TIMIKA, TelukPapua.Com – Selain pelatihan seni musik tradisonal dan seni kerajinan tangan, DISPARPORA Mimika juga menghadirkan pembinaan seni tari tradisional yang melibatkan praktisi budaya Kamoro, Dominggus Kapiyau, yang juga anggota DPRD Kabupaten Mimika sekaligus instruktur dari kegiatan seni tari tradisional dan seni music tradisional. Sejak dimulai pada Selasa (18/11), Dominggus menilai perkembangan peserta, khususnya kelompok tari, sangat pesat.
“Kalau bicara soal antusias, itu luar biasa. Anak-anak senang, guru-guru lebih senang lagi karena kegiatan seperti ini baru pertama kali diadakan bagi sekolah,” ujar Dominggus saat ditemui wartawan Telukpapua.Com, Jumat 21 November 2025.
Menurut Dominggus sejak hari pertama hingga Jumat (21/11), peserta menunjukkan semangat tinggi, dibantu dengan pendekatan pengajaran yang menggabungkan motivasi, permainan edukatif, dan metode kreatif agar materi dapat diterima dengan baik.
Ia menyebut sebagian besar pelajar, terutama tingkat SMP, sebenarnya telah memiliki talenta dasar dalam seni tari. Mereka datang membawa “patron” atau potongan dasar gerak yang kuat, sehingga tugas pelatih hanya “menjahitnya” menjadi bentuk tari yang utuh.
“Mereka cepat sekali tangkap materi karena serius. Prinsip saya, latihan itu harus serius tapi santai supaya mereka tidak tegang. Dengan itu materi bisa masuk,” jelasnya.
Sebelum pelatihan ini, Dominggus mengaku sudah pernah melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah terkait bentuk tari seka. Namun tidak semua sekolah memahami perbedaan antara tari kompetisi dan tari pesta rakyat.
“Masyarakat sering campur aduk antara format lomba dan pesta rakyat. Padahal dalam tradisi, formasi seka itu lingkaran, bukan dua atau tiga baris,” jelasnya.
Pembina musik tradisional lainnya, Yohanes Aibekob, menegaskan pentingnya pelestarian identitas seni Kamoro, termasuk tari seka yang kerap disamakan dengan Yosim Pancar.
“Seka itu murni dari Timika, milik orang Kamoro. Orang Biak, Serui, dan daerah lain punya tarian sendiri Yosim Pancar,Wor, dan lainnya. Mirip bukan berarti sama,” tegasnya.
Menanggapi klaim dari daerah lain mengenai seka, dia menegaskan tidak ada dasar yang menyebut seka berasal dari luar suku Kamoro.Ia menilai penting untuk membakukan gerakan tari seka, seperti halnya Yosim Pancar yang kini telah dikenal luas.
“Kalau dibakukan, semua kabupaten bisa belajar dengan benar. Tidak salah-salah lagi, dan tidak terjadi klaim-klaim. Ini penting untuk pelestarian budaya Papua,” tuturnya.
Meski menegaskan identitas asli seka, dia mengajak masyarakat untuk melihat seni sebagai ruang pemersatu.
“Lebih baik kita satukan ini sebagai budaya Papua. Yang penting tidak mengubah bentuk aslinya. Seka harus dihargai sebagai warisan Kamoro,” tambahnya.
Keduanya juga menilai bahwa pelatihan seperti yang diselenggarakan DISPARPORA tahun ini adalah langkah penting untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus memperkenalkan identitas asli Kamoro kepada generasi muda. (Brayen)

