TIMIKA, TelukPapua.com – Semangat toleransi dan persaudaraan antarumat beragama kembali ditunjukkan oleh Pemuda Muslim Mimika. Dipimpin Ketua Pemuda Muslim Mimika, Arifin Letsoin, bersama sejumlah anggota dan tokoh pemuda, mereka melakukan kunjungan langsung ke Pomako untuk melihat kondisi Gereja Katolik St. Fransiskus Pomako yang mengalami kebakaran beberapa hari lalu.
Kunjungan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap saudara-saudara umat Katolik yang saat ini kehilangan tempat ibadah. Dalam kesempatan itu, Arifin Letsoin menegaskan bahwa Pemuda Muslim Mimika siap memberikan dukungan dan membantu proses pembangunan kembali gereja tersebut agar dapat segera digunakan oleh umat untuk beribadah.
“Kami hadir sebagai saudara. Musibah yang menimpa Gereja St. Fransiskus Pomako adalah duka bagi kita semua. Pemuda Muslim Mimika siap mendukung dan membantu pembangunan kembali gereja ini sebagai bentuk nyata persaudaraan dan toleransi yang selama ini terjaga di Kabupaten Mimika,” ujar Arifin Letsoin.
Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Mimika, pemerintah provinsi, serta pihak-pihak terkait dapat segera turun tangan untuk melihat langsung kondisi gereja yang terbakar dan memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan masyarakat setempat.
“Harapan kami, pemerintah segera mengambil langkah cepat agar pembangunan kembali Gereja St. Fransiskus Pomako dapat segera dilakukan. Masyarakat membutuhkan tempat yang layak untuk beribadah dan menjalankan aktivitas keagamaan mereka,” tambahnya.
Kehadiran Pemuda Muslim Mimika di lokasi kebakaran mendapat apresiasi dari masyarakat karena mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan persatuan yang selama ini menjadi kekuatan utama kehidupan sosial di Mimika.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, aksi solidaritas lintas agama ini menjadi pesan kuat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling membantu dan menguatkan. Semangat gotong royong dan persaudaraan yang ditunjukkan Pemuda Muslim Mimika diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan kedamaian di Tanah Papua.
“Saat rumah ibadah saudara kita tertimpa musibah, maka sudah menjadi tanggung jawab bersama untuk hadir, peduli, dan membantu. Toleransi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujarnya. (G.Fakaubun)

