JAYAPURA, TelukPapua.com – Ketersediaan vaksin yang melimpah di Puskesmas tidak akan pernah cukup jika kesadaran masyarakat masih rendah. Menyadari tantangan tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Papua bersama UNICEF Indonesia, dengan dukungan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, bergerak cepat meracik strategi baru.
Mereka menggelar Workshop Penguatan Strategi Komunikasi dan Penyusunan Media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) di Kota Jayapura pada 1–2 September 2026. Langkah taktis ini diambil demi meningkatkan permintaan layanan imunisasi rutin sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman polio, khususnya di wilayah perbatasan Indonesia dan Papua Nugini (PNG).
Tak tanggung-tanggung, sekitar 40 peserta dari berbagai sektor dikerahkan. Mulai dari jajaran Dinkes lintas kabupaten/kota, kader posyandu, pihak BKKBN, Badan Kekarantinaan Kesehatan (BKK), Dinas Kominfo, hingga para akademisi dari Universitas Cenderawasih dan Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua. Bahkan, para influencer media sosial juga dilibatkan untuk memperluas jangkauan edukasi di ranah digital.
Menjembatani Kesenjangan Informasi di Lapangan
Workshop ini digelar sebagai respons langsung terhadap temuan Survei Cepat Komunitas (SCK) Polio 2026 di Kota Jayapura dan Kabupaten Keerom. Hasil survei tersebut cukup mengejutkan: hanya separuh responden yang pernah mendengar tentang polio, dan mirisnya, hanya 12 persen yang paham jadwal imunisasi dengan benar. Lebih dari itu, separuh masyarakat masih mengira polio sudah benar-benar lenyap dari bumi Indonesia.
Padahal, fakta di lapangan berkata lain. Papua sempat diguncang status Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah kasus polio kembali ditemukan pada tahun 2024. Risiko ini kian nyata mengingat negara tetangga, Papua Nugini, melaporkan puluhan kasus serupa pada akhir 2025, sementara mobilitas warga yang melintasi perbatasan kedua negara sangat tinggi setiap tahunnya.
“Vaksin terbaik sekalipun tidak akan memberikan dampak maksimal apabila orang tua tidak membawa anaknya ke layanan imunisasi. Ketika orang tua paham, mereka akan terdorong untuk datang,” ujar Iswahyudi, Health Officer UNICEF Indonesia Papua Field Office. Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis budaya lokal sangat penting agar pesan kesehatan bisa diterima tanpa menabrak kebiasaan setempat.
Hal senada ditegaskan oleh Elinus Tabuni, Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Papua. “Masyarakat harus tahu di mana pelayanan diberikan, kapan harus datang, dan mengapa anak mereka perlu diimunisasi. Jika informasi ini tidak sampai, vaksin yang ada tidak akan memberikan perlindungan maksimal,” jelasnya.
Enam ‘Senjata’ Edukasi Berbasis Kebutuhan Warga
Melalui diskusi mendalam, kolaborasi lintas sektor ini berhasil merumuskan enam media KIE kontekstual yang siap didistribusikan pada minggu keempat September 2026:
- Poster penyakit polio dan pentingnya imunisasi.
- Media skrining kesehatan dan status imunisasi untuk pos lintas batas.
- Video testimoni orang tua yang aktif membawa anaknya ke posyandu.
- Video dukungan dari influencer, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Papua.
- Pesan suara (audio) ajakan imunisasi untuk pengeras suara di kampung-kampung.
- Media visual penyakit PD3I pada Buku KIA yang dilengkapi kartu ajakan antarlansia/orang tua.
Seluruh media ini juga akan memperkuat kapasitas kader posyandu melalui pelatihan Komunikasi Antarpribadi (KAP). Guna memastikan strategi ini berjalan dinamis, Dinkes dan UNICEF akan menerapkan mekanisme social listening untuk memantau dialog dan kekhawatiran yang berkembang di tengah masyarakat.
Komitmen Bersama untuk Generasi Emas Papua
Keberlanjutan strategi ini dipastikan lewat komitmen kuat lintas instansi. Dinas Kominfo Kota Jayapura siap menyebarluaskan materi visual lewat videotron dan jaringan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di lima distrik. Sementara BKKBN Papua akan mengintegrasikan materi KIE ini ke dalam program rutin Tim Pendamping Keluarga bagi ibu hamil dan pemilik balita.
Di pintu gerbang negara, Badan Kekarantinaan Kesehatan (BKK) akan memperketat skrining serta pencatatan imunisasi anak, sekaligus memperkuat Penyelidikan Epidemiologi (PE) sebagai benteng pertahanan dini.
Melalui sinergi berbasis kebudayaan lokal ini, Pemerintah Provinsi Papua dan para mitra optimis dapat mengetuk hati lebih banyak keluarga. Langkah bersama ini menjadi tonggak penting dalam melindungi anak-anak Papua dari ancaman penyakit yang dapat dicegah, sekaligus memastikan bumi Cenderawasih tetap tangguh dan bebas polio.(Brayen)

