NABIRE, TelukPapua.Com– Guna menekan kasus malaria di Kabupaten Nabire, Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire bersama Dinas Kesehatan dan UNICEF menyusun skema pembelajaran Malaria yang terintegerasi dalam mata pelajaran atau edukasi pencegahan malaria di kurikulum di masing – masing jenjang. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Dra. Dina Pidjer,. M.M.,Kamis, 25 Juni 2026.
Lebih lanjut kata Dina Pidjer, kasus malaria pada usia sekolah menurut data Dinas Kesehatan mencapai 900 kasus. Untuk itu perlu perlindungan dan edukasi kepada siswa secara formal melalui muatan Lokal malaria atau integrasi pembelajaran malaria dalam mata pelajaran.
”Untuk muatan lokal kesehatan nanti intregerasi Aids, TB dan malaria akan disiapkan secara bertahap, untuk tahap pertama satuan pendidikan seluruh Nabire akan menerapkan integrasi pembelajaran malaria dalam mata – mata pelajaran yang sudah disepakati oleh tim perumus yang terdiri dari Kasie kurikulum masing – masing jenjang, ketua MKKS, Ketua K3S dan Ketua IGTKI di Kabupaten Nabire pada 22 Juni 2026,ucapnya.
Dalam upaya penerapan melaria terintegrasi ini, kata Dina, bahwa Dinas Pendidikan akan mengeluarkan intruksi ke seluruh satuan pendidikan dari TK, SD, SMP, SMA/SMK untuk menerapkan pembelajaran malaria mulai tahun ajaran baru ini.
”Targetnya mulai bulan juli tahun ajaran baru ini, integrasi ini bisa mulai dilakukan di Sekolah – Sekolah semua jenjang dan berbagai penyesuaian, Buku – buku pegangan dan pembelajaran malaria sudah ada diserahkan oleh Dinas Kesehatan ke Dinas Pendidikan, harapannya anak – anak bisa teredukasi dengan baik,” tutupnya.

Senada dengan Dina Pidjer, Kabid P2P Elvina Agustina yang didampingi Kepala Seksi P2M Alfred Lambey menyampaikan bahwa kasus malaria kabupaten Nabire Januari hingga Juni mencapai 4060 kasus positif dengan pada usia sekolah mencapai 900 kasus.
”Siswa harus diberikan edukasi secara berkelanjutan disetiap jenjang pendidikan, sehingga bisa menjadi agent edukator di keluarga masing – masing dalam mencegah malaria,” ungkap Elvina Agustina.
Kata Elvina Agustina, malaria jangan dianggap penyakit biasa, bahayanya bisa keguguran, pembengkakan limpa bahkan bisa menyerang otak pasien.
”Edukasi formal dari pembelajaran sekolah yang terintegerasi malaria sangat penting, siswa akan terdukasi, bahwa malaria bisa menurunkan kognitif mereka jika terpapar malari,” tambah Elvina Agustina.
Health Officer UNICEF (Badan PBB Untuk perlindungan anak – anak) Wilayah Papua, Iswahyudi, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nabire, khususnya Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan, yang telah membangun kolaborasi lintas sektor dalam memberikan perlindungan kepada anak-anak usia sekolah melalui integrasi edukasi malaria ke dalam pembelajaran.
Menurutnya, eliminasi malaria tidak dapat dicapai oleh sektor kesehatan saja, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif sektor pendidikan, pemerintah kampung, dan seluruh elemen masyarakat
Iswahyudi menjelaskan bahwa berbagai penelitian menunjukkan malaria masih menjadi salah satu penyebab utama terganggunya kesehatan dan kualitas belajar anak. Infeksi malaria yang berulang dapat menyebabkan anemia, penurunan kemampuan kognitif, gangguan konsentrasi, meningkatnya ketidakhadiran di sekolah, serta menurunkan prestasi belajar.
Pada kasus yang berat, malaria juga dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting sebagai sarana edukasi untuk membangun perilaku pencegahan malaria sejak dini.
“Beberapa hari lalu Pemerintah Kabupaten Nabire telah memperkuat pengendalian malaria melalui pembentukan Tim Malaria Kampung. Kini, sektor pendidikan mengambil peran yang tidak kalah penting dengan mengintegrasikan materi malaria ke dalam pembelajaran di seluruh jenjang pendidikan, Pendekatan ini menunjukkan bahwa eliminasi malaria hanya dapat dicapai melalui kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat,” ujar Iswahyudi.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi pembelajaran malaria terintegrasi perlu didukung dengan pembekalan bagi para guru, penyediaan materi ajar yang memadai, serta monitoring dan evaluasi secara berkala. Dengan demikian, edukasi malaria dapat diterapkan secara efektif dan berkelanjutan sehingga siswa tidak hanya mampu melindungi dirinya sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menyebarkan perilaku pencegahan malaria di lingkungan keluarga dan masyarakat.
” Kami berkomitmen untuk terus mendukung Pemerintah Kabupaten Nabire dalam memperkuat upaya promotif dan preventif menuju eliminasi malaria,” tutup Iswahyudi.(Brayen W)

