TIMIKA, TelukPapua.Com – Kegiatan sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan yang diselenggarakan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak APKM mendapat apresiasi dari para peserta. Seratus perempuan Kei yang mengikuti kegiatan yang berlangsung di Aula Bobaigo Keuskupan Timika, pada Kamis, 30 Oktober 2025 tersebut, menyatakan kegiatan ini menjadi ruang terbuka bagi kaum perempuan untuk berani speak up atau berbicara dengan jujur, terbuka, dan tanpa rasa takut serta saling berbagi pengalaman sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menghentikan kasus kekerasan dalam rumah tangga.
Sekretaris Umum Aliansi Pemuda Kei Mimika (APKM), Muchlis Welerubun, memberikan apresiasi tinggi kepada panitia penyelenggara. Ia menilai kegiatan ini bukan hanya bentuk edukasi, tetapi juga gerakan sosial yang membawa nilai-nilai budaya Kei yang menghormati perempuan.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak terus meningkat. Ini menjadi tanggung jawab bersama. Dalam filsafat hidup orang Kei, perempuan adalah sosok yang harus dilindungi karena mereka pelopor peradaban dalam keluarga dan masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut kata Muchlis, pentingnya pelibatan semua pihak, termasuk laki-laki, dalam upaya pencegahan kekerasan agar hasilnya lebih efektif.
“Gerakan ini akan berdampak besar kalau dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Kalau hanya sekali dua kali, sulit terlihat hasilnya. Tapi kalau terus dilakukan, saya yakin Timika bisa mengurangi bahkan menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tambahnya.
Sedangkan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak APKM, Maria Yoke Iriyanan, S.Pd., selaku penyelenggara kegiatan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya melindungi perempuan dari segala bentuk kekerasan.
“Harapan saya, ibu-ibu yang hadir hari ini bisa memahami materi yang diberikan, supaya mereka tahu langkah pencegahan dan kemana harus melapor jika mengalami kekerasan. Kami ingin rumah tangga tetap aman dan harmonis,” jelasnya.
Maria juga mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan program lanjutan berupa sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak di tingkat SD, SMP, dan SMA, serta program pemberdayaan perempuan di bidang menjahit.
“Lewat pelatihan menjahit, kami ingin membantu janda, perempuan putus sekolah, dan ibu rumah tangga agar bisa mandiri secara ekonomi dan mengembangkan bakatnya,” ungkapnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Ana Sirwutubun, menceritakan pengalaman pribadinya, dimana dirinya sempat mengalami kekerasan fisik dan psikis dalam rumah tangga. Karena itu, dengan penuh semangat, ia mengajak kaum perempuan untuk tidak takut bersuara dan melaporkan kekerasan yang dialami.
“Saya pernah mengalami kekerasan secara fisik, mental, dan psikis. Tapi dari kegiatan ini saya mau ajak ibu-ibu dan teman-teman, jangan malu dan jangan takut melapor. Kekerasan itu tidak bisa kita hapus sepenuhnya, tapi kita bisa meminimalisir dengan mengubah mindset dan berani bangkit dari keterpurukan,” ungkapnya.
Kisah yang dialami Ana harus diminimalisir atau dihentikan, seperti diungkapkan peserta lain, Husni Hasna Yaurbulan. Husni juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas suku dalam upaya menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Saya setuju dengan adik Ana. Kegiatan seperti ini harus terus dilakukan. Kita perempuan Kei maupun dari suku lain harus bekerja sama agar kekerasan ini bisa dihentikan. Nama orang Kei jangan sampai dicap negatif karena perilaku segelintir orang. Kita harus tunjukkan bahwa perempuan Kei bisa jadi teladan dalam menjaga keharmonisan,” katanya.
Selain berbagi pengalaman, para peserta juga berharap agar kegiatan edukatif seperti ini bisa dilakukan secara berkelanjutan. Mereka menilai, edukasi dan ruang berbagi seperti ini memberi kekuatan baru bagi perempuan untuk bangkit dan mandiri.
Kegiatan sosialisasi ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dalam memerangi kekerasan berbasis gender. Semangat yang ditunjukkan para peserta menjadi bukti bahwa perempuan Timika siap bangkit, bersuara, dan menjadi agen perubahan di lingkungan mereka. (Brayen Wara)

