TIMIKA, TelukPapua.com – Ketua Komunitas TikTok Peduli Mimika, M. Guntur Fakaubun, SH, atau yang akrab disapa “Ayah Dede” di TikTok, menyoroti fenomena bantuan hewan kurban yang diduga bernuansa politik.
Menurutnya, hampir setiap momentum Hari Raya Idul Adha, umat Islam di berbagai daerah menerima bantuan hewan kurban berupa sapi maupun kambing dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Namun, ia menegaskan bahwa bantuan tersebut bisa saja bukan berasal dari uang pribadi presiden, gubernur, ataupun bupati, melainkan menggunakan anggaran negara melalui APBD.
“Kalau hewan kurban dibeli menggunakan uang rakyat, maka potensi penyimpangan anggaran sangat besar. Dugaan mark up harga hewan kurban sudah menjadi rahasia umum. Modusnya sederhana, kwitansi kosong ditandatangani penjual, lalu angka diisi oleh oknum dinas terkait sesuai kepentingan mereka,” tegas Guntur.
Jika itu benar, ia menilai praktik seperti itu bukan hanya merugikan keuangan daerah, tetapi juga melahirkan budaya politik pencitraan di tengah masyarakat. Para pejabat mendapatkan pujian politik dari rakyat, sementara oknum tertentu diduga memperoleh keuntungan dari permainan anggaran pengadaan hewan kurban.
Lebih lanjut, Guntur mengkritik kebiasaan sebagian umat Islam yang menurutnya terlalu bergantung pada bantuan pemerintah dalam urusan kurban. Padahal, setiap masjid dinilai memiliki kemampuan untuk menabung dan mengelola dana umat demi membeli hewan kurban secara mandiri.
“Kenapa umat Islam tidak berdiri di atas kaki sendiri? Bukankah masjid memiliki dana amaliah yang jika dikelola dengan baik mampu membeli sapi kurban setiap tahun?” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap bantuan pejabat dapat memicu konflik politik di tengah masyarakat, khususnya saat momentum Pilkada. Menurutnya, masyarakat sering kali menilai seorang pemimpin hanya dari pemberian hewan kurban, lalu saling menyerang ketika pilihan politik berbeda.
“Kebaikan melalui bantuan kurban kadang hanya menjadi kebaikan semu. Ketika bantuan berhenti, pujian berubah menjadi kekecewaan,” katanya.
Dalam pernyataannya, Guntur turut mengutip pesan seorang tokoh Muslim di Timika yang menurutnya sangat membekas dalam pikirannya:
“Puji-pujian berlebihan kepada pemimpin yang tidak sesuai kenyataan adalah bujukan. Dan jika para pemimpin agama mulai membungkuk kepada penguasa yang zalim, maka dua pertiga agamanya telah hilang.”
Menutup pernyataannya, Guntur mengajak umat Islam untuk mengevaluasi budaya politik bantuan hewan kurban agar tidak lagi dijadikan alat kepentingan kekuasaan.
“Sudah saatnya umat Islam mandiri dalam berkurban, agar nilai ibadah tetap suci dan tidak tercampur dengan kepentingan politik praktis,” tutupnya. (G.Fakaubun)

