TIMIKA, TelukPapua.com – Warga Mimika Barat Tengah mengeluh terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang ada di wilayah Distrik Mimika Barat Tengah. Keluhan warga ini terkait suplay listrik dari PLTS yang dibangun sejak 2019 tersebut hanya menyala 3 hingga 4 jam setiap malam.
Terkait dengan kerusakan pada PLTS, masyarakat mendesak agar PLN UP3 Timika segera menurunkan tim teknis untuk mengevaluasi dan memperbaiki seluruh PLTS yang ada di Mimika Barat Tengah, Mimika Barat Jauh, hingga Mimika Tengah.
Salah satu Tokoh Masyarakat Mimika Barat Tengah, Fransisco via telfon kepada TelukPapua.com, pada Selasa, 23 September 2025 mengatakan, PLTS diresmikan pada tahun 2022. Namun, hingga saat ini hanya mampu menyuplai listrik selama tiga hingga empat jam setiap malam.
Menurut Fransisco, kondisi ini sudah berlangsung selama dua tahun terakhir. Lampu yang seharusnya menopang aktivitas warga, termasuk anak-anak sekolah yang hendak belajar di malam hari, justru padam lebih cepat pada pukul 21.00 WIT.
“Paling lama jam 9 malam listrik sudah padam, bahkan ada di beberapa kampung lainnya lampu baru menyala jam 6 sore, tapi jam 8 sudah padam. Jadi masyarakat sangat kecewa dengan kondisi ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut Fransisco mengatakan, laporan mengenai kerusakan dan gangguan PLTS sudah berulang kali disampaikan oleh operator PLTS di kampung maupun pemerintah distrik kepada pihak PLN UP3 Timika. Namun, hingga kini pihak PLN UP3 Timika dinilai lambat dalam merespon laporan tersebut.
“Kalau laporan soal gangguan listrik di Timika biasanya cepat ditindaklanjuti, tapi untuk PLTS di kampung-kampung ini seperti dibiarkan begitu saja,” tegasnya.
Lanjut Fransisco, PLTS yang dibangun melalui program Papua Terang ini diharapkan bisa memberikan penerangan hingga tengah malam. Namun kenyataannya, kapasitas daya yang terbatas membuat PLTS tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Bahkan, kata Fransisco, PLTS sejak beberapa bulan terakhir sudah mati total di Kampung Pronggo, Kampung Uta, Pusat Pemerintahan Distrik Mimika Barat Tengah, dan sejumlah kampung lainnya yang berada di Distrik Mimika Barat Tengah.
“Kami bukan bicara untuk kepentingan pemerintah saja, tapi kepentingan masyarakat luas. Anak-anak sekolah sulit belajar di malam hari, warga pun sering kembali menggunakan genset pribadi karena PLTS tidak bisa diandalkan,” ujarnya.
Fransisco dan masyarakat berharap, PLN UP3 Timika segera menurunkan tim teknis untuk mengevaluasi dan memperbaiki seluruh PLTS yang ada di Mimika Barat Tengah, Mimika Barat Jauh, hingga Mimika Tengah.
“PLN jangan hanya fokus mengurus listrik di Kota Timika, tapi juga bertanggung jawab atas PLTS di kampung-kampung yang mengalami kendala teknis. Program Papua Terang jangan hanya jadi hiasan, harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tandasnya.
Warga meminta agar PLN UP3 Timika menanggapi serius laporan kendala teknis dari operator PLTS, kepala kampung, maupun pemerintah distrik, sehingga pelayanan listrik tenaga surya benar-benar kembali berfungsi sebagaimana mestinya.(Brayen W)

