TIMIKA, TelukPapua.com — Semangat persaudaraan dan toleransi antarumat beragama kembali ditunjukkan oleh generasi muda Kabupaten Mimika. Gabungan pemuda lintas agama dan berbagai organisasi kemasyarakatan turun langsung ke jalan menggelar aksi galang dana untuk membantu pembangunan kembali Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Poumako yang terbakar beberapa waktu lalu.
Aksi penggalangan dana yang dipusatkan di perempatan Jalan Budi Utomo–Jalan Hassanudin pada Senin (1/6/2026) ini menjadi bukti nyata bahwa musibah yang menimpa satu kelompok masyarakat adalah duka bersama seluruh warga Mimika. Kegiatan yang digagas oleh Front Aksi Kemanusiaan tersebut akan berlangsung selama tiga hari hingga 3 Juni 2026.
Penggalangan dana hari pertama terkumpul Rp15,3 juta (Rp15.300.000). Melalui semangat aksi galang dana yang dilakukan Pemuda Lintas Organisasi di Mimika ini diperkirakan dana yang terkumpul akan bertambah pada hari kedua dan ketiga.
Sedikitnya 12 organisasi pemuda dan komunitas bergabung dalam aksi solidaritas ini, di antaranya PMII, PMKRI, GMNI, GMKI, IMM, Pemuda Muslim Mimika, Pemuda Katolik Mimika, Barisan Merah Putih, Forum Papua Tengah Terang, Pemuda Sorong Raya, APKM, dan komunitas fans sepak bola Portugal Timika.
Dengan membawa kotak donasi, para pemuda berdiri di sepanjang jalan mengajak masyarakat untuk turut membantu pembangunan kembali rumah ibadah yang berada di Distrik Mimika Timur tersebut. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan secara transparan untuk mendukung proses pembangunan gereja.
Koordinator aksi yang juga Ketua Pemuda Muslim Mimika, Arifin Letsoin, menegaskan bahwa tragedi kebakaran Gereja Poumako bukan hanya menjadi duka umat Katolik, tetapi juga duka seluruh masyarakat Mimika.
“Mari kitong berpartisipasi untuk bangun kembali tong pu saudara-saudara punya tempat ibadah. Ini bukan soal agama, tetapi soal kemanusiaan, persaudaraan, dan kebersamaan sebagai warga Mimika,” tegas Arifin.
Aksi ini menjadi pesan kuat bahwa keberagaman di Mimika bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling membantu dalam setiap situasi. Ketika rumah ibadah terbakar, yang hadir bukan hanya umatnya, tetapi seluruh elemen masyarakat yang memiliki kepedulian dan rasa persaudaraan.
Gerakan kemanusiaan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Papua Tengah bahwa toleransi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Solidaritas yang ditunjukkan para pemuda lintas agama hari ini menjadi simbol kuat bahwa persatuan, gotong royong, dan rasa kemanusiaan tetap hidup dan terjaga di Tanah Amungsa.
“Berbeda keyakinan, tetapi satu dalam kemanusiaan. Mimika kuat karena persaudaraan.” (G.Fakaubun)
