TIMIKA, TelukPapua.com – Kasus tragis pembunuhan dan pembakaran seorang gadis remaja berinisial CK (14) oleh mantan kekasihnya, A (14), di Kampung Waroki, Nabire, memicu reaksi keras dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Papua Tengah. Tragedi memilukan ini dinilai sebagai alarm darurat atas runtuhnya sistem pengawasan anak di lingkungan sosial.
Direktur YLBH Papua Tengah, Yosep Temorubun, S.H., mengutuk keras tindakan keji yang melibatkan anak di bawah umur tersebut. Menurutnya, peristiwa ini merupakan potret nyata dari kegagalan kolektif dalam membentuk moral generasi muda.
“Kasus ini menunjukkan adanya akumulasi dari pengaruh lingkungan yang buruk, kurangnya pengawasan dari orang tua, serta lemahnya pendidikan karakter anak sejak usia dini. Pola mendidik anak, baik di lingkungan rumah maupun di dunia pendidikan kita, terbukti masih sangat lemah dalam menerapkan nilai-nilai karakter,” tegas Yosep Temorubun, S.H. dalam keterangan resminya, Rabu 5 Agustus 2026.
Yosep menambahkan bahwa penegakan hukum dalam kasus yang menggegerkan publik ini harus berjalan secara transparan dan berkeadilan. Mengingat pelaku masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur, YLBH Papua Tengah mendesak adanya pendampingan hukum yang ketat guna membongkar akar masalah di balik tindakan nekat pelaku.
Kronologi Asmara Berdarah di Nabire Barat
Berdasarkan data dari Polres Nabire, pembunuhan berencana ini terjadi pada Kamis 30 Juli 2026 malam. Polisi bergerak cepat dan berhasil membekuk pelaku A di kediamannya yang berlokasi di Jalan Kendari, Kelurahan Kalisusu, pada Jumat 31 Juli 2026 pukul 02.40 WIT.
Wakapolres Nabire, Kompol Dr. Piter Kendek, mengungkapkan bahwa motif utama pembunuhan dipicu oleh rasa tertekan dan ketakutan pelaku.
Hubungan asmara antara korban CK dan pelaku A yang dijalani sejak Mei 2026 sempat diwarnai hubungan layaknya suami istri di sebuah penginapan.
Namun, hubungan tersebut kandas pada Juni 2026 karena pelaku berpaling ke perempuan lain. Tak terima dengan keputusan itu, korban kerap mengancam akan membongkar rahasia hubungan intim mereka kepada orang tua pelaku.
Merasa terdesak, pelaku A memblokir kontak WhatsApp korban dan mulai menyusun rencana pembunuhan. Kesempatan itu datang ketika korban meminta bertemu untuk terakhir kalinya. Pelaku telah menyiapkan sebilah pisau dapur dan minyak tanah di dalam jok motor Yamaha Aerox miliknya.
Sempat terjadi aksi kejar-kejaran karena korban ketakutan melihat pisau. Pelaku kemudian berpura-pura membuang pisaunya ke semak-semak agar korban mau naik ke motor. Namun, saat korban lengah, pelaku langsung mendorong korban ke semak-semak dan mencekiknya hingga tewas.
“Setelah korban tidak berdaya dan meninggal dunia, pelaku mengambil minyak tanah dari jok motor, menyiramkannya ke tubuh korban, lalu membakarnya di lokasi kejadian,” jelas Kompol Piter.
Hingga saat ini, keluarga korban terus menyuarakan tuntutan keadilan.(red)

