TIMIKA, TelukPapua.com – Titus Pekei, selaku penggagas Noken Papua di United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), sekaligus mewakili UNESCO menyerahkan sertifikat kepada Mama-Mama Papua saat menghadiri Expo Festival UMKM di Kota Timika, 8 Oktober 2025.
Tas tradisional rajutan Mama-mama Papua ini, diakui UNESCO atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tanggal 4 Desember 2012 di Paris, Prancis.
Pengakuan ini dilakukan sebagai upaya perlindungan dan pelestarian terhadap kerajinan tradisional masyarakat Papua yang sarat akan nilai budaya dan filosofi ini.
Sertifikat tersebut diserahkan Titus Pekei, sebagai pencetus Noken Papua di UNESCO yang juga aktivis budaya asal Papua ini kepada Mama – mama Papua pembuat Noken di Timika, pada Rabu (8/10).
Dalam rilis yang diterima TelukPapua.com, dijelaskan, Titus Pekei merupakan inisiator Noken di UNESCO. Selain itu, putra Papua ini juga sebagai pengacara, peneliti, penulis, serta aktivis Noken Budaya Papua, sehingga menggagas pengakuan global terhadap Noken sebagai warisan budaya non-benda dari Tanah Papua.
“Noken Papua diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia pada tanggal 4 Desember 2012. Noken ini lebih dari sekadar alat untuk membawa barang, tetapi juga mewakili identitas, perdamaian, serta keberlanjutan lingkungan yang mencerminkan kebijaksanaan perempuan Papua di tengah pengaruh globalisasi, “ kata Titus Pekei.
Lebih Lanjut Titus menjelaskan, Noken berasal dari dan tersebar di tujuh wilayah budaya Papua, yaitu Mamta yang meliputi Jayapura dan sekitarnya, Saireri yang mencakup Biak dan Numfor, Bomberai yang terdiri dari Manokwari, Sorong, dan Raja Ampat, Bomberai yang mencakup Fakfak dan Kaimana, Anim-Ha yang mencakup Merauke, Asmat, dan Mappi, La-Pago yang mencakup Wamena, Oksibil, dan Puncak Jaya, serta Me-Pago yang mencakup Paniai, Mimika, Intan Jaya, Dogiyai, dan Deiyai.
Pekei berkomitmen dalam mencari nilai-nilai budaya serta melestarikan lingkungan Noken, menjaga hutan dan kehidupan lingkungan di Papua. Dengan adanya Noken juga berperan dalam mendorong kreativitas dan pemberdayaan perempuan Papua.
“Dengan demikian, Noken bukan hanya dianggap sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi simbol ketahanan, identitas, dan harapan masyarakat Papua,” katanya.(John)

