TIMIKA, TelukPapua.com- Berbagai kasus kekerasan di Tanah Papua nyaris tak pernah selesai. Dalam beberapa bulan terakhir tahun 2025 ini, berbagai insiden kekerasan kembali terjadi dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa baik warga sipil, TNI-Polri maupun KKB. Jika pemerintah pusat mengabaikan dan tidak menyikapi secara serius konflik di Tanah Papua, maka kasus kekerasan ini akan sulit diakhiri.
Demikian ditegaskan Direktur YLBH Papua Tengah, Yosep Temorubun, S.H kepada jurnalis TelukPapua.com di Timika, Selasa 30 September 2025.
Kata Yosep, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, dalam pidato di Sidang Umum PBB ke-80 begitu semangat sampai menggempar dunia, dengan memberikan dukungan politik untuk kemerdekaan Palestina menjadi negara merdeka dan berdaulat, melalui solusi dua negara untuk menyelesaikan konflik Palestina dan Israel. Namun di balik dukungan untuk kemerdekaan Palestina, Presiden Prabowo dinilai lupa dengan kondisi yang terjadi di Indonesia khusus tanah Papua.
“Jakarta begitu enteng mengabaikan kekerasan di tanah Papua, kami perlu mengingatkan Jakarta jangan sampai Papua akan terjadi seperti Palestena dimana negara-negara pasifik akan menyampaikan hal yang sama di hadapan Sidang Umum PBB. Disitulah Jakarta akan ketar ketir menghadapi gelombang dukungan dari negara terhadap Papua,” tegas Yosep.
Lanjut Yosep, selama ini Jakarta mengabaikan dialog Jakarta-Papua, apakah Papua sengaja dipelihara untuk menciptakan konflik bersenjata disertai kekerasan dan mengorbankan warga sipil, TNI-Polri dan KKB, ini menunjukan kalangan elit berdasi di Jakarta ada kepentingan terselubung di Papua.
“Kami contoh kasu konflik bernuansa SARA di Maluku, Posso, Kalimantan dan Aceh bisa diselesaikan satu meja, kenapa Papua tidak dilakukan dialog damai untuk mengakhiri konflik di Papua sejak orde lama sampai saat ini memasuki era reformasi,” Tanya Yosep.
Yosep menegaskan selama Jakarta tidak ada niat baik untuk menyelesaikan konflik bersenjata di tanah Papua, maka tidak akan selesai pertumpahan darah di tanah Papua.
“Apa arti slogan Papua Tanah Damai jika Jakarta hanya membiarkan Papua hidup dalam konflik kekerasan,”katanya.
Saat ini, kata Yosep, Papua dalam keadaan tidak baik-baik saja, karena Jakarta begitu bungkam dan tidak niat baik untuk melakukan dialog penyelesaian konflik bersenjata di tanah Papua.
“Kasus HAM di tanah Papua telah menjadi bahan pembicaraan di tingkat global terutama Dewan HAM PBB. Hal tersebut menjadi seruan di kalangan negara-negara pasifik yang memiliki satu ras melanesia dengan Papua, karena itu, pemerintah pusat perlu berhati-hati. Jika tidak maka satu saat nanti negara-negara bagian pasik akan melakukan langkah yang sama seperti Presiden Prabowo pada saat Sidang Umum di PBB Ke-80, dengan isu terjadinya HAM Berat di tanah Papua,” ujarnya. (red)

