TIMIKA, TelukPapua.com – Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Provinsi Papua Tengah menggelar sahur gratis selama 9 hari terhitung mulai hari Selasa 24 Februari 2026 hingga tanggal 4 Maret 2026 di Timika. Sahur gratis yang digagas organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama Provinsi Papua Tengah ini berlangsung di empat titik di wilayah Timika.
Ketua PW Fatayat NU, Sholikah,S.Pd. SE., M.Si kepada wartawan TelukPapua.com, Selasa 24 Februari 2026 dini hari saat sahur gratis hari pertama menjelaskan, selama bulan ramadan tahun 2026 pihaknya melaksanakan sahur gratis selama 10 hari. Selain itu, Fatayat NU Provinsi Papua Tengah juga akan membagi takjil gratis di tiga tempat berbeda.
“Sahur gratis pertama, kami sudah laksanakan di Nabire, sedangkan 9 hari terhitung hari ini di Timika. Jadi kami sampaikan masih ada 8 hari kami buka sahur gratis di empat tempat di Timika,” kata Sholikah.
Menurut Ketua PW Fatayat NU Papua Tengah yang menjabat sejak 27 November 2024 ini, ada 4 titik sahur gratis di Kota Timika dengan menu sahur sebanyak 150 porsi per hari. Empat lokasi sahur gratis antara lain; Warung Dinda selama 2 hari, Raja Rasa 3 hari, Warung Babat 2 hari, dan Warung Asri 2 hari.
“Jadi sahur gratis mulai buka pada pukul 02.30 WIT. Jumlah menu sahur yang kami sediakan 150 porsi, kalau kurang kami akan tambahkan lagi,” ujarnya.
Lebih lanjut kata dia, selain sahur gratis, PW Fatayat NU Papua Tengah akan membagi 1.000 porsi takjil gratis di Nabire, Timika, dan Paniai.
“PW Fatayat NU Papua Tengah akan membagi 1.000 porsi takjil gratis secara serentak di tiga daerah pada waktu yang sama yakni tanggal 1 Maret 2026,” jelasnya.
Pimpinan Wilayah Fatayat NU Papua Tengah secara resmi dibentuk pada 27 November 2024, menandai babak baru konsolidasi organisasi perempuan muda NU di wilayah tersebut. Pembentukan ini merupakan bagian dari upaya Pimpinan Pusat Fatayat NU untuk memperkuat struktur organisasi dan kaderisasi di kawasan Indonesia Timur, khususnya di provinsi-provinsi pemekaran.
Proses ini didorong oleh kebutuhan untuk memiliki wadah yang spesifik dalam menjangkau dan memberdayakan perempuan muda di Provinsi Papua Tengah, yang sebelumnya tergabung dalam struktur provinsi induk Papua. Kehadiran organisasi ini diharapkan dapat mengoptimalkan peran Fatayat NU dalam pembinaan keagamaan, sosial, dan pendidikan bagi anggotanya di daerah tersebut, dengan fokus utama pada isu-isu yang berkaitan dengan perempuan dan anak. (Guntur F)

