TIMIKA, TelukPapua.com – Puluhan orang tua siswa melakukan aksi protes terhadap tiga oknum guru di SMPN 1 Mimika Timur, Rabu 17 September 2025.
Aksi para orang tua siswa ini berawal dari adanya dugaan tindakan tak terpuji yang dilakukan ketiga oknum guru wanita ini terhadap puluhan pelajar perempuan di sekolah negeri ini.
Namun, setelah dilakukan mediasi oleh pihak Polsek Mapurujaya, informasi tersebut ternyata tidak benar. Meski begitu, para orang tua ini minta kepala sekolah SMPN 1 Mimika Timur diganti.
Salah satu Tokoh Pemuda Mimika Timur, Iwan saat dikonfirmasi TelukPapua.com Rabu, 17 September 2025, menjelaskan, informasi tersebut sudah diklarifikasi oleh ketiga orang guru tersebut.
“Jadi terkait isu yang sempat menimbulkan aksi protes sejumlah orang tua murid di SMP Negeri 1 Mimika Timur, pada Selasa 16 September lalu, sudah dilakukan mediasi oleh aparat,” jelasnya.

Menurut Iwan, cerita yang berkembang menyebutkan, jika sang kepala sekolah dan dua guru perempuan lainnya diduga memaksa seluruh pelajar perempuan untuk membuka pakaian termasuk pakaian dalam di dalam kamar mandi guna pengecekan siapa pemilik pembalut wanita yang ditemukan di toilet sekolah. Namun, cerita tersebut menurut tiga guru ini adalah tidak benar.
“Kronologisnya, setelah ditemukan pembalut dengan bercak darah di kamar mandi, pihak sekolah mencoba mencari tahu siswi yang sedang datang bulan. Karena tidak ada yang mengaku, maka kepala sekolah meminta guru laki-laki dan siswa laki-laki untuk pulang sekolah lebih awal, sedangkan siswi perempuan dari kelas 1 sampai kelas 3 lalu dipanggil ke ruang kepala sekolah untuk dicek, tetapi yang membuka pakaian adalah siswi sendiri di dalam kamar mandi dalam ruangan itu, bukan guru atau kepala sekolah,” jelas Iwan sesuai keterangan yang disampaikan DP Kepala sekolah SMP Negeri 1 Mimika Timur pada saat mediasi.
Lebih lanjut dikatakan, langkah kepala sekolah bersama dua oknum guru perempuan tersebut sebenarnya bertujuan menjaga kesehatan para siswi dan lingkungan sekolah, apalagi sebelumnya ada penyuluhan tentang penyakit kelamin. Namun, cara yang ditempuh tersebut dianggap keliru.
“Seharusnya kepala sekolah memanggil orang tua untuk rapat, menyampaikan masalah ini secara resmi. Karena ini menyangkut hal pribadi anak-anak, sebaiknya melibatkan keluarga, bukan langsung mengambil tindakan di sekolah,” katanya.
Ia juga menambahkan,terkait permasalahan ini pihak sekolah sudah melakukan pertemuan antara orang tua para siswa beserta angota kepolisian pada Rabu (17/9) namun dalam pertemuan tersebut sampai berita ini ditayang belum dapat diselesaikan karena para orang tua tidak terima dengan cara guru menyuruh siswa untuk melepas pakaiannya.
“Kami minta hadirkan pihak dari dinas terkait untuk melakukan pertemuan dengan kami orang tua siswa dan guru-guru untuk menyelesaikan masalah ini, terus pergantian kepala sekolah,”tambahnya.
Terkait tuntutan tersebut, Iwan langsung mendatangi dinas pendidikan untuk menyampaikan tuntutan para orang tua.
“Setelah pertemuan di SMP Negeri 1 Mimika Timur, saya langsung mendatangi dinas pendidikan untuk menyampaikan tutuntan yang disampaiakan oleh orang tua. Jadi dari dinas, nanti mereka yang menyurati kepada pihak sekolah,” tutupnya. (Brayen W)
